Home » » Bank Indonesia Gelar Seminar Internasional Keuangan Islami

Bank Indonesia Gelar Seminar Internasional Keuangan Islami

Written By C. SUkandi on Jumat, 21 Juni 2013 | 16.04

Jakarta: Demi melesatkan lagi kinerja lembaga keuangan islami, Bank Indonesia untuk yang ketiga kali menyelenggarakan International Seminar on Islamic Finance.

Ada tiga sasaran yang ingin digapai dalam seminar yang akan berlangsung pada 30-31 Mei 2013 di Bali tersebut. "Kami melihat ada sekelompok masyarakat yang tidak diikutsertakan dalam pertumbuhan ekonomi," ujar Direktur Eksekutif Perbankan Syariah Bank Indonesia Edy Setiadi di Jakarta, Senin (27/5) sore.

Menurut data Bank Dunia, cuma 40% yang punya akses ke perbankan. Edy berharap perbankan syariah menjangkau dan memberdayakan masyarakat yang tergolong miskin ini.

Misalnya, bank syariah menjalin kerja sama dengan baitul mal wa tamwil (BMT) yang banyak berdiri di daerah. "Dengan begitu, bank syariah bisa memperluas sasaran warga untuk dapat melakukan pembayaran, tabungan, dan pembiayaan," katanya.

Jangan dikira dengan memerhatikan kelompok yang biasanya menjalankan usaha kecil dan menengah itu bakal merontokkan bank syariah. "Ada bank dengan kontribusi pembiayaan pada UKM hanya 5% tapi return bisa sampai 15%," ungkap Edy. 

Kini sudah mulai banyak bank yang memperbesar porsi pembiayaan ke UKM. Apalagi Bank Indonesia telah mewajibkan perbankan untuk memberikan pembiayaan UKM minimal 20%. "Tapi, ini dilakukan bertahap sampai 2016," ujar Edy.

Ke depan, Bank Indonesia juga menginginkan agar perbankan syariah dapat membantu program pemerintah seperti pembangunan infrastruktur dalam  Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI). Namun, kendalanya ialah modal bank syariah yang terbilang minim dibanding bank konvensional.

Edy memaparkan bahwa hingga Maret 2013 total aset bank syariah baru mencapai Rp209,6 triliun atau 4,86% dari pasar perbankan nasional. Pembiayaan bank syariah tercatat mencapai Rp161 triliun atau 5,82% dari pasar perbankan nasional. Dana pihak ketiga bank syariah sebesar Rp156,9 triliun atau 4,84% dari pasar perbankan nasional. 

Selain itu, seminar juga ingin menyoroti kekuatan industri keuangan syariah pascakrisis moneter pada 2008. Pasalnya, industri ini mampu mempercepat proses pemulihan dan pertumbuhan sektor riil. 

"Kami ingin melihat peran perbankan syariah dalam menstabilkan sistem keuangan. Karenanya, kami meminta pandangan dari sejumlah pakar di bidangnya dari berbagai negara tentang model perbankan syariah ke depan untuk mencapai tiga sasaran tersebut," terang Edy. 
 
Para pakar yang didatangkan berasal dari Islamic Development Bank, Bank Negara Pakistan, Bank Negara Malaysia, Bank Dunia, International Monetary Fund (IMF), dan berbagai institut keuangan islami internasional dari Pakistan, Inggris, dan Malaysia.

BI berharap hasil seminar nanti dapat dijadikan bahan kajian dalam membuat peraturan untuk memajukan perbankan syariah.
Share this article :

Posting Komentar

Jumlah Pengunjung

Flag Counter
 
Support : Creating Website | Cecep Sukandi | Shafarisa
Copyright © 2013. Shafarisa - All Rights Reserved
Template Created by CV-SHAFARISA Published by Cecep Sukandi
Proudly powered by Blogger